Total Tayangan Halaman

Senin, 31 Oktober 2022

MATERI RETORIKA DAKWAH

 RETORIKA DAKWAH



Retorika Dakwah

(Persiapan)


*Semangat dalam menyampaikan materi

*Buat kesan pertama jama’ah terkesan


Retorika Dalam Praktek:


1.      Pentingnya Persiapan

 

Dalam menyampaikan materi didepan jama’ah sangat perlu diadakannya persiapan, dan menganggap bahwa audien adalah orang-orang yang alim. Setiap akan melakukan sesuatu kegiatan apapun perlu adanya persiapan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah dan khutbah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Plato pernah mengatakan, ”jika seseorang berbicara didepan khalayak tanpa persiapan bagaikan telanjang didepan umum”.


Imam Jalaluddin Abdurrahman ibnu Abi bakar As suyuthi menyebutkan dalam kitabnya;


الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير (3/ 23)

لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيقٌ وَطَرِيقُ الجَنَّةِ الْعِلْمُ عن ابن عمر


“setiap sesuatu itu ada caranya, dan cara menuju surga adalah ilmu”.(dari Ibnu Umar)


2.      Persiapan Mental


Persiapan mental dalam berpidato, ceramah atau khutbah adalah dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri(optimism) yang tinggi kedalam jiwa kita.

Mempersiapkan mentalitas yang memadai:

a.       Sadari rasa tanggung jawab yang mulia, penting dan dibutuhkan masyarakat.

b.      Yakin bahwa apa yang hendak kita sampaikan merupakan sesuatu yang benar.

c.       Yakin bahwa kita pantas(kepribadian dan penguasaan materi).

d.      Sadari bahwa kita memiliki kemampuan.

e.       Tidak mempermasalahkan terhadap hal-hal yang tidak prinsip(pakaian yang sederhana, usia dll).


3.      Bentuk persiapan pidato

a.       Memahami latar belakang jama’ah.

b.      Menentukan judul/materi/topic.

c.       Mengumpulkan bahan-bahan(muqaddimah, isi, penutup).

d.      Menyusun sistematika materi.

e.       Menjaga kondisi fisik.

f.       Analisis pendengar(Feed back).


Pelaksanaan Pidato:


1.      Tampil mengesankan

2.      Menguasai forum/audien

3.      Jangan menyimpang dari topik

4.      Gaya yang orisinil(tidak terlalu meniru gaya orang lain)

5.      Bersikap sederajat dengan jama’ah(tidak menggurui)

6.      Mengatur intonasi(tekanan)

7.      Mengatur tempo(interpal)

8.      Memberi tekanan(straising)

9.      Memelihara kontak dengan jama’ah

10.  Pengembangan bahasa(penjelasan, contoh, kutipan, perbandingan, statistik)

#IlmuDakwah

PRIORITAS DAKWAH KELUARGA

 DAKWAH KEPADA KELUARGA



PRIORITAS DAKWAH KELUARGA SEBELUM MASYARAKAT UMUM


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam memulai dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.

Keluarga adalah yag paling berhak untuk di dakwahi dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah kita dan yang paling tahu keadaan kita, dan juga berdasarkan dari ayat diatas Rasulullah tauladan kita juga diperintahkan dengan hal tersebut.

Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira kemudian disusul dengan wahyu kedua, yang berbunyi, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” – QS Al-Mudatsir (74): 1-2. Dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah dilakukan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarganya sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.

Menurut M. Yunan Yusuf dalam makalah berjudul Strategi Dakwah Rasulullah, Dari Kerabat Menuju Kesatuan Umat, dalam buku Kajian Tematik Al-Quran tentang Fiqih Ibadah, keluarga terdekat Rasulullah bila ditelurusi dari silsilah berawal dari Qushai. Qushai mempunyai tiga orang anak, masing-masing bernama Abdul Uzza, Abdul Manaf, dan Abdul Darr. Dari ketiga anak ini, silsilah Rasulullah berkaitan dengan Abdul Manaf, yang mempunyai empat anak. Yaitu Muthalib, Hasyim, Naufal, dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang anak bernama Abdul Muthalib. Selanjutnya, Abdul Muthalib mempunyi sepuluh anak, tetapi yang disebut namanya hanya enam orang, yaitu Abdullah, Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib, Haris, Hamzah. Abdullah adalah ayah Rasulullah.

Abd Syams, saudara kakek buyut Rasulullah, mempunyai anak bernama Umayyah. Umayyah mempunyai anak bernama Harb, dan Harb memiliki anak bernama Abu Sufyan. Dari keturunan Abu Sufyan inilah kemudian lahir Mu’awiyah sebagai bapak Bani Ummayyah. Demikian pula, paman Rasullah, Abbas, di kemudian hari menurunkan para khalifah Bani Abbasiyyah.

Saudara kakek buyut Rasulullah yang lain, yaitu Abdul Uzza, menurunkan keluarga Asad dan Khuwailid. Khuwailid mempunyai dua orang anak, yaitu Awwam dan Khadijah. Khadijah, sesudah ditinggal mati oleh suaminya yang pertama, kemudian menikah dengan Rasulullah.

Ketika turunnya ayat tersebut, yang dimaksud dengan keluarga dekat Rasulullah adalah mereka yang hidup semasa dengan beliau. Bila disebut satu per satu, mereka adalah Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib Haris, dan Hamzah. Untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, Rasulullah pun menyeru kaum kerabatnya ini.

Imam Bukhari meriwayatkan hal tersebut dalam kitab Shahih-nya sebagai berikut;

”Wahai putra-putri Fihr, Adi, dan seluruh anggota suku Quraisy”, sehingga mereka berkumpul, sampai tak dapat hadir pun mengirimkan wakilnya untuk mengetahui apa yang disampaikan Muhammad SAW. Abu Lahab bersama tokoh Quraisy lainnya datang.

Nabi bersabda, ”Bagaimana kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa di lembah ini ada sepasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”

Mereka menjawab, ”Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”

Nabi bersabda, ”Sesungguhnya akan ada yang memperingatkan kalian tentang bahaya besar di hari kemudian.”

Abu Lahab berkata, ”Celakalah engkau. Untuk hal inikah engkau mengumpulkan kami?”

Lalu turunlah ayat Tabbat yada Abi Lahabiw wa tabba (HR Bukhari).

Selanjutnya, Rasulullah mengundang kaum kerabat anggota keluarga terdekat untuk makan bersama-sama di rumah beliau sendiri. Diriwayatkan bahwa yang hadir ketika itu sampai mencapai 40 orang, termasuk Abu Lahab.

Setelah selesai jamuan makan, Rasulullah bersiap-siap untuk memulai membicarakan maksud yang akan disampaikan kepada para tamunya. Namun, sebelum beliau sempat berdiri untuk maksud tersebut, Abu Lahab memotong jalan mendahului berdiri terlebih dahulu, lalu berpidato dengan lantang penuh nafsu. ”Mereka (yang hadir) ini adalah saudara-saudara bapakmu dan anak-anak keturunan dari saudara-saudara bapakmu. Maka (sekarang) berbicaralah! Dan hentikanlah penyelewenganmu (dari agamamu) itu. Jangan engkau menyerang agama kaummu. Jangan kamu serahkan mereka kepada kemarahan bangsa Arab, sebab sesungguhnya kaummu tidak akan sanggup melawan mereka bangsa Arab keseluruhannya. Mereka (kaummu) tidak sanggup berperang dengan mereka.

Kaummu sudah tahu maksudmu, hendak mengubah agama mereka. Tidak tersembunyi bagi mereka apa urusanmu (yang sebenarnya) dan bahwa engkau mengajak mereka kepada penyelewengan, (mengajak mereka) supaya keluar dari tradisi nenek moyang (kita). Awaslah, jagalah keselamatan dirimu dan keselamatan keluargamu. Tidak sukar bagi mereka untuk menyerangmu dan membunuhmu. Kembalilah kepada agama dan bapak nenek moyangmu. Itulah lebih baik bagimu. Kalau tidak, kami akan penjarakan engkau sampai engkau sehat kembali dari penyakit itu, sehingga dapat melindungimu dari bangsa Arab. Kami lebih patut dan pantas mendidikmu sampai pikiranmu sehat kembali, sehingga engkau bebas dari penyakitmu. Keluargamu lebih wajar mendidikmu dan berhak untuk menangkapmu dan memenjarakanmu, bila engkau terus bertahan pada pendirianmu itu, dan itu lebih memudahkan bagimu dan bagi mereka, daripada apabila kaum Quraisy menerkammu dengan bantuan bangsa Arab (lainnya). Aku tidak pernah melihat seseorang yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga bapakmu seperti yang engkau lakukan ini.”


Tetap Sabar dan Tawakal

Baru saja Rasulullah memulai dakwah untuk keluarga terdekat, beliau sudah dihadang oleh anggota keluarga sendiri. Ini menunjukkan, setiap pendukung dakwah haruslah menyadari bahwa tantangan dakwah bisa muncul bukan saja dari luar, tetapi juga dari dalam, yakni dari orang dekat, bahkan dari kalangan keluarga sendiri. Meskipun Rasulullah mendapat celaan pedas dari Abu Lahab dan dikatakan sebagai penyeleweng, beliau tetap sabar dan tawakal. ”Segala puji bagi Allah, aku puji Dia, aku mohon pertolongan kepada-Nya, aku beriman kepada-Nya dan aku berserah diri kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah melainkan Dia satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian dari itu, sesungguhnya seorang perintis dakwah tidak akan menipu keluarganya. Andai kata menipu semua manusia, aku tidak akan menipu keluargaku. Demi Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu khususnya, dan kepada umat manusia umumnya.

Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku supaya aku memanggil kalian kepada-Nya, dengan firman-Nya, ‘Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat.’ – QS Asy-Syu’ara (26): 214.

Aku panggil kalian kepada kalimat yang ringan di lidah, berat di timbangan, yakni penyaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Dan demi Allah, kalian pasti akan mati, sebagaimana tertidur, dan akan bangkit kembali sebagaimana kalian terbangun, dan pasti kalian akan dimintai pertanggungjawaban kalian atas apa yang kalian perbuat, dan kalian akan diberi ganjaran yang baik atas amal yang baik, dan yang buruk atas perbuatan yang buruk. Sesungguhnya (di sana) ada surga yang kekal dan ada neraka yang kekal.

Wahai keturunan Abdul Muthalib, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pemuda membawa sesuatu yang lebih tinggi nilainya daripada apa yang aku bawakan kepada kalian (sekarang ini). Sesungguhnya kubawakan kepada kalian kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Maka siapa (di antara yang hadir) yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan (penting) ini dan bersedia mendampingku untuk menegakkannya?”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, hadirin pun terdiam seketika. Terjadilah pro dan kontra.

Namun dalam keheningan itu, seorang pemuda berdiri, dia adalah Ali bin Abi Thalib. Dengan suara lantang dia berkata, ”Aku, ya Rasulullah! Aku membelamu. Aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhimu.”

Hadirin menengok ke arah Ali bin Abi Thalib, dan kemudian berkata kepada Abu Thalib, dengan makna ”mengapa kau biarkan anakmu terpengaruh Muhammad!”

Karena semua mata memandang kepadanya dan ingin minta penjelasan kepadanya, Abu Thalib angkat bicara, ”Dan (lihatlah), itu semua kaum kerabat keturunan ayahmu, yang sedang berkumpul. Aku hanyalah seorang dari mereka, tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang kau kehendaki. Teruskanlah menjalankan tugasmu yang diperintahkan. Demi Allah, aku akan tetap melindungimu dan membelamu. Hanya, aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama Abdul Muthalib.”


Empat Kelompok

Kerabat Rasulullah terbagi dalam 4(empat) sikap menghadapi dakwah beliau;

Kelompok pertama yaitu mereka yang langsung menerima Islam dan meninggalkan agama nenek moyang. Yakni Khadijah Khuwalaid, istri Rasulullah, dan Ali bin Abi Thalib, sepupunya.

Kelompok kedua yaitu mereka yang menolak dakwah Rasulullah dan bahkan memusuhi Rasulullah secara terus-menerus. Kelompok ini diwakili oleh Abu Lahab, paman Rasul, dan istrinya, Ummu Jamil. Bibinya ini adalah kakak Abu Sufyan. Keduanya dikutuk Allah sebagaimana termaktub dalam surah Al-Lahab (111): 1-5.

Kelompok ketiga yaitu mereka yang menolak dakwah Rasulullah tetapi membela beliau dalam situasi apa pun. Sebagian ulama mengatakan bahwa Abu Thalib termasuk kelompok ini. Tetapi ada yang berpendapat bahwa Abu Thalib juga beriman meski tidak terang-terangan menyatakannya. Karena pembelaan Abu Thalib inilah kebanyakan kaum kerabat Nabi tidak memusuhinya.

Sedang kelompok keempat yaitu mereka yang menerima dakwah Rasulullah tetapi tidak seketika, memerlukan waktu yang relatif agak lama. Kelompok ini diwakili oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemudian disusul Abu Sufyan dan istrinya, Hindun. Wallahu A’lam.


Semoga bermanfaat Barakallahu fiikum.

#Materi kuliah di STID M.NATSIR JAKARTA.

Jumat, 28 Oktober 2022

PESAN DA’WAH DIBALIK KISAH PERANG UHUD


PESAN DA’WAH

DIBALIK KISAH PERANG UHUD


PESAN DA’WAH DIBALIK KISAH PERANG UHUD

Oleh: Mashuri Ibnu Abdul Qodir Al Ishlahy


A. Latar Belakang

Kisah sebelum terjadinya perang uhud ini adalah bermula dari perang badar yang mana merupakan pertempuran yang sangat penting antara kaum Musyrikin Quraisy dengan kaum Muslimin, yang mana peperangan ini dimenangkan secara muthlak di pihak kaum muslimin, padahal kaum musyrikin lebih diunggulkan dalam peperangan ini. kemenangan ini bisa di saksikan seluruh bangsa arab atas keunggulan kaum muslimin. Ada pihak lain yang melihat keperkasaan kaum muslimin sehingga mereka menganggap bahwa ini adalah  ancaman besar bagi posisi agama dan perekonomian mereka. Mereka adalah kaum yahudi. Setelah kemenangan kaum muslimin pada perang badar, kedua golongan ini merasa terbakar api kebencian dan kedengkian terhadap kaum muslimin. Dalam hal ini Allah berfirman:


لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...(Q.S Al Maidah: 82)

Pelajaran: Hal ini mengingatkan kita, bahwa dalam memperjuangkan dan menegakkan agama Allah sangatlah berat dan banyak rintangannya, serta musuh-musuh da’wah selalu berusaha untuk merintangi dan menggagalkan gerakan da’wah yang kita tempuh ini. Diantara musuh-musuh da’wah yang perlu kita waspadai adalah orang-orang yahudi, nasrani dan orang-orang musyrik yang mereka tidak akan pernah ridha dengan jalan yang kita tempuh ini sehingga kita mengikuti agama mereka sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya Q.S Surat Al Baqarah Ayat 120, yang artinya; “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


B. Persiapan Kaum Quraisy untuk Perang Pembalasan

Kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Sufyan melakukan persiapan sebelum mereka menyerang kaum muslimin, diantaranya adalah mereka mempersiapkan perbendaharaan hingga terkumpul seribu(1000) unta dan limapuluh ribu(50.000) dinar. Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah Menurunkan ayat:  


لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (37)

36. Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.(Q.S Al Anfal: 36)

Pelajaran: yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah, bahwa musuh-musuh islam selalu berusaha untuk merintangi tersebar dan berkembangnya agama ini. Sehingga mereka pun berlomba-lomba menginfaqkan harta mereka, bahkan mereka juga memerangi agama ini dengan mengangkat senjata secara langsung  di medan perang. Dan dalam memerangi islam mereka tidak asal-asalan, tetapi mereka sudah mengadakan persiapan yang matang dan menggunakan banyak strategi. Untuk itu kita diperintah untuk selalu bersiap menghadapi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

60. dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)(Q.S. Al Anfal: 60).

Pelajaran: Dari ayat ini bisa kita ketahui bahwa untuk menghadapi kaum musyrikin, kita kaum muslimin juga perlu adanya persiapan sehingga kita bisa mengalahkan kaum musyrikin ataupun musuh-musuh islam. Selain itu kita juga perlu pendukung dari bidang finansial, jadi kaum muslimin juga perlu berkorban harta, jiwa dan raga dalam memperjuangkan Din ini. Hal ini secara jelas menggambarkan bahwa perjalan da’wah tidaklah mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan, yang mana perjalanan da’wah ini perlu adanya perjuangan yang gigih dan pengorbanan yang tidak sedikit.


C. Kekuatan Pasukan Quraisy

Setelah mereka mengadakan persiapan genap satu tahun, dan merasa persiapan mereka benar-benar sudah matang. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Quraisy bersatu dengan sekutu-sekutunya dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quraisy membawa juga para wanita karena dianggap bisa memompa semangat mereka.

Mereka menggunakan hewan pengangkut dalam peperangan ini sebanyak tiga ribu unta. Penunggang kudanya sebanyak dua ratus, sedangkan pasukan yang dilengkapi dengan baju besi sebanyak tujuh ratus orang. Komando tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harits, Komandan pasukan penunggang kuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai asistennya. Sedangkan bendera perangnya diserahkan kepada Bani Abdud Dar.

Setelah itu, mereka-pun merasa persiapan sudah cukup dan pasukan Quraisy mulai berangkat menuju Madinah dengan keadaan hati yang bergejolak oleh api kebencian dan dendam yang siap meledak.

Pelajaran: Dengan mengetahui kekuatan lawan kita bisa memperkirakan kemampuan yang kita miliki dalam menghadapi musuh. Selain itu juga di zaman sekarang ini bagi kita seorang da’i harus mengetahui mad’u yang kita hadapi, sehingga bisa menda’wahkan dengan tepat dan langkah apa yang pertama kali harus ditempuh dalam menda’wahi mad’u.



D. Mata-mata Nabi dan Persiapan Kaum Muslimin Menghadapi Kafir Quraisy

Mata-mata Nabi yang masih menetap di makkah Adalah sahabat Al Abbas bin Abdul Muththalib, yang terus memata-matai setiap gerak-gerik kaum Quraisy dalam masa persiapan militer mereka. Setelah kaum musyrikin berangkat menuju Madinah, Al Abbas mengirim surat kilat kepada Nabi yang berisi kabar secara rinci tentang pasukan Quraisy.

Utusan Al Abbas segera berangkat menyampaikan surat tersebut dan mampu menempuh perjalanan antara Makkah dan Madinah hanya dalam waktu tiga hari. Nabi menerima surat itu tatkala beliau berada di masjid Quba’. Beliau menyuruh Ubay bin Ka’ab untuk membacakan surat itu dan memerintahkan untuk merahasiakan isi surat tersebut. Setelah itu beliau kembali ke Madinah.

Madinah dalam keadaan siaga satu. Tak seorang-pun lepas dari senjatanya, sekalipun dalam shalat. Mereka tetap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Setiap pintu gerbang Madinah pasti dijaga oleh sejumlah orang, di khawatirkan musuh menyerang secara mendadak.

Kabar tentang pasukan Quraisy terus menerus disampaikan oleh mata-mata, termasuk  kabar bahwa mereka sudah tiba di dekat bukit uhud, tepatnya di lokasi yang disebut Ainain, disebelah utara Madinah pada hari jum’at, 6 syawal 3 Hijriyah.

Pelajaran: Pentingnya intel ataupun pemberi khabar tentang perkembangan kekuatan musuh. Dalam berda’wah kita harus mengetahui kondisi yang ada disekitar kita sehingga bisa bertindak dengan tepat.



E. Majlis Musyawarah Dalam Menentukan Strategi Perang

Setelah mendengar kabar bahwa kaum musyrikin dan tiba di bukit uhud, Rasulullah mengajak para shahabatnya bermusyawarah[1], untuk menampung berbagai pendapat dan menentukan sikap. Dalam kesempatan itu juga beliau menceritakan mimpi yang dialaminya. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku telah bermimpi yang bagus. Dalam  mimpi itu kulihat beberapa ekor lembu yang disembelih. Aku melihat pedangku ada yang rampal dan aku memasukkan tanganku kedalam baju besiku yang kokoh.”

Beberapa ekor sapi ditafsirkan dengan beberap orang shabat yang gugur syahid, mata pedang beliau yang rampal ditafsirkan dengan anggota keluarga beliau yang terkena musibah, dan baju besi ditafsirkan dengan kota Madinah. Dengan mimpinya itu beliau mengusulkan untuk tetap bertahan dimadinah dan membiarkan kaum Quraisy bertahan diluar Madinah tanpa melakukan serangan, dan hal ini disetujui oleh Abdullah bin Ubay yang saat itu hadir sebagai perwakilan dari pemuka khazraj. Dia menyetujui ini adalah agar dia bisa untuk menjauhi peperangan.

Namun, sejumlah shahabat yang tidak ikut serta dalam perang badar sebelumnya mengusulkan kepada Nabi agar keluar dari Madinah. Bahkan, mereka bersikukuh dengan usulan ini. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sejak dahulu kami sudah mengharapkan kdatangan hari seperti ini dan kami selalu berdo’a kepada Allah. Dia sudah menuntun kami dan tempat yang dituju sudah dekat. Keluarlah unutk menghadapi musuh-musuh kita, agar mereka tidak menganggap kita takut.

Salah satu tokoh terdepan diantara orang-orang yang antusias untuk keluar adalah Hamzah bin Abdul Muththalib yang sebelumnya tidak ikut diperang badar. Akhirnya Rasulullah mengabaikan pendapat beliau sendiri kerena mengikuti pendapat mayoritas. Beliau-pun memutuskan untuk  keluar kota Madinah dan bertempur di medan terbuka.

Pelajaran: Pentingnya musyawarah sebelum menentukan langkah lebih lanjut, hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi dalam da’wah jama’i perlu adanya musyawarah dalam menentukan langkah da’wah supaya lebih maju dan diterima dimasyarakat, dan tidak mendahulukan sifat egoisme. Melalui musyawarah juga berguna untuk menggali ide-ide brilian dari seluruh peserta musyawarah[2].


F. Keberangkatan Pasukan Rasulullah

Sebelum berangkat Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga kelompok:

1.  Kelompok Muhajirin, benderanya diserahkan kepada mus’ab bib Umair Al abdari.

2.  Kelompok Aus, benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair.

3. Kelompok Khazraj, benderanya diserahkan kepada Al Hubab bin Al Mundzir Al Jamuh.

Pasukan ini terdiri dari seribu prajurit: Seratus prajurit memakai baju besi, lima puluh mengendarai kuda. Dan ada yang berpendapat bahwa tak seorangpun menunggang kuda.

Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum terutama untuk mengimami shalat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun akhirnya dia diperbolehkan untuk turut serta.

Setelah melewati Tsaniyyatul Wada’, di kejauhan terlihat ada pasukan bersenjata lengkap. Setelah ditanya, dikhabarkan bahwa mereka adalah yahudi yang sudah menjadi sekutu khazraj yang ingin ikut perang melawan orang-orang musyrik. Beliau bertanya apakah mereka telah  masuk islam ? setelah diketahui bahwa mereka belum masuk islam maka beliau menolak untuk meminta bantuan kepada orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.

Pelajaran: Pentingnya mengatur strategi dan membagi tugas dalam berda’wah menyerukan kepada agama Allah dan memerangi musuh Allah, karena tidak mungkin tugas ini dikerjakan hanya satu orang saja, sehingga seluruh permasalahan dapat terselesaikan secara maximal dengan koordinasi yang baik antar anggota da’wah.


G. Abdullah bin Ubay dan Komplotannya Membelot

ketika fajar menyingsing, dan shalat shubuh hampir dilaksanakan, sementara itu musuh sudah dapat dilihat dan musuhpun dapat melihat mereka. Tepatnya berada di Syauth(antara Madinah dan uhud)[3], tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot, tidak kurang dari sepertiga pasukan menarik diri. Abdullah bin Ubay beralasan bahwa Nabi mengabaikan pendapatnya dan lebih suka mendengar pendapat orang lain. Namun tujuan yang sebenarnya adalah ingin menimbulkan keguncangan dan keresahan ditengah kaum muslimin. Dan terbukti setelah banyak orang yang mundur sisa pasukan yang bersama beliau mengalami penurunan mental. Berkaitan dengan hal ini Allah menurunkan ayat yang menegarkan hati mereka kembali. Allah berfirman,  

122. ketika dua golongan dari padamu[223] ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.(Q.S Ali Imran: 122)

[223] Yakni: Banu Salamah dari suku Khazraj dan Banu Haritsah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin.

Saat itulah Abdullah bin Haram, berupaya mengingatkan orang munafiq tersebut tentang apa yang harus mereka kerjakan dalam situasi yang kritis ini yaitu untuk berperang dijalan Allah. Mereka menjawab,” Seandainya dari awal kita tahu bahwa kalian hendak berperang, maka kami tidak akan bergabung”.

Sehubungan dengan sikap orang munafiq ini Allah berfirman:  

167. dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya Kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah Kami mengikuti kamu".. mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.(Q.S. Ali Imran: 167)

Pelajaran: Dalam perjuangan da’wah tak akan lepas dari yang namanya cobaan, baik dari dalam(kaum muslimin) maupun dari luar, yang mana hal ini dapat menimbulkan kelemahan, keresahan dan keguncangan bagi seorang da’i dalam memperjuangkan agama Allah. Maka dari itu perlu adanya peneguh dan pemompa semangat, sehingga da’wah ini tetap bisa berjalan dengan baik. Dengan ini pula Allah menampakkan mana orang-orang yang munafiq dan mana orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, jadi peperangan ini selain menjadi ujian juga menjadi sebuah penyaringan umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaih Wasallam yang benar-benar berjuang karena Allah[4]. Maka orang-orang munafiq sangat berbahaya karena mereka suka mengambil yang enak-enak saja.[5]


H. Terjadinya Peperangan

Peristiwa perang uhud terjadi pada hari Sabtu tanggal 7 Syawal[6] tahun ke tiga(3) Hijriyah[7]. Sesampainya perjalanan dikaki bukit uhud, Rasulullah membagi  tugas pasukannya dan membariskan mereka sebagai persiapan untuk menghadapi peperangan. Diantaranya adalah ditempatkannya pasukan pemanah diatas bukit yang disertai dengan perintah-perintah militer yang keras sebagai langkah untuk menyumbat celah yang memungkinkan bagi kaum musyrikin untuk menyusup, menyerang, dan mengacaukan barisan kaum muslimin dan dari belakang[8].


I. Syahidnya Hamzah bin Abdul Muththalib

Hamzah bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dikenal dengan julukan Asadullah(Singa Allah), hal ini dikarenakan keberanian beliau menghadapi musuh-musuh Allah. Dan dalam peperangan uhud ini beliau syahid terkena serangan tombak dari  Wahsyi bin Harb budak dari Jubair bin Muth’im.

Pelajaran: Dengan syahidnya Hamzah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sedih dan inilah bentuk dari beberapa cobaan yang menimpa dalam berda’wah yaitu hilangnya orang yang kita sayangi. Maka dari itu bekal sabar bagi seorang da’i yang memperjuangkan agama Allah adalah bekal wajib diantara beberapa bekal lainnya.


J. Kisah Khandhalah bin Abu Amir

Diantara pahlawan yang tidak mengenal rasa takut adalah Khandhalah bin Abu Amir, yang mana khandhalah baru saja melakukan pernikahan. Saat itu dia berada dipelukan istri dan dia mendengar gemuruh peperangan, seketika itu dia melepaskan pelukan istrinya dan bangkit untuk berjihad di medan perang yang akhirnya syahid karena ditikam oleh Syaddad bin Al Aswad.

Pelajaran: Jalan da’wah yang kita lalui tidaklah mudah, perlu adanya pengorbanan dan perjuangan jiwa raga serta harta benda, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.


K. Penyebab Kekalahan dan Kegagalan

Pada peperangan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah membagi beberapa bagian untuk menjaga bagiannya masing-masing selama perang berlangsung. Setelah pasukan muslimin hampir meraih puncak kemenangan, ada sebagian pasukan yang tidak mengikuti apa yang telah diperintahkan karena menganggap bahwa peperangan telah usai, yang akhirnya mereka meninggalkan pos bagian yang seharusnya mereka(Tim Pemanah)  jaga, yang mana pada saat itu mereka turun untuk mengambil harta rampasan perang(Ghanimah), padahal mereka sudah di ingatkan oleh komandannya(Abdullah bin Jubair) supaya tidak meninggalkan posisi mereka. Dengan sebab itulah terjadi kekalahan yang mana Khalid bin Al Walid mengambil jalan memutar hingga tiba dibelakang kaum muslimin yang dengan mudah menyerang dan menguasai keadaan.

Pelajaran: Kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya[9] salah satu faktor dari kekalahan dan kegagalan dalam berda’wah dan memperjuangkan agama Allah, fitnah harta[10], dan cerdiknya musuh-musuh Allah[11] adalah beberapa penyebab dari kegagalan dalam da’wah, yang mana itu semua harus kita selesaikan.


L. Rasulullah Mengobarkan Semangat Patriotik

Pada saat pertempuran sudah genting keadaan kaum muslimin maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengobarkan semangat kaum muslimin dengan bersabda,” Siapakah yang ingin mengambil pedang ini beserta haknya” Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju dan bertanya”Apakah haknya, wahai Rasulullah”, “Hendaknya engkau membabatkan pedang ini kewajah-wajah musuh hingga bengkok.!” jawab Beliau. Aku akan mengambilnya sesuai haknya, wahai Rasulullah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-pun menyerahkan pedang itu kepadanya. Setelah itu ia berjalan dengan gagah untuk menghadapi musuh[12]. Dan juga sikap patriotik Shahabat Mush’ab bin Umair, ia bertempur dengan gagah berani dalam melindungi Nabi sambil memegang bendera sampai kedua tangannya putus tertebas oleh pedangya Ibnu Qami’ah dan akhirnya syahid.

Pelajaran: Perlunya dorongan semangat dalam berda’wah, keberanian dalam menghadapi musuh, dan tawakkal kepada Allah.


M. Isu Kematian Rasulullah dan Dampaknya

Ditengah sengitnya peperangan tersiar khabar dari teriakan Ibnu Qami’ah dikalangan kaum muslimin dan orang-orang musyrik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam syahid dalam peperangan tersebut, sehingga khabar ini meluruhkan semangat para shahabat yang tidak jauh dari tempat itu. Hal ini menyebabkan mental mereka langsung anjlok dan barisan mereka kocar-kacir.

Selain itu hal ini juga menurunkan kualitas serangan kaum musyrikin, karena mereka mengira telah mewujudkan tujuan yang paling pokok dalam perang tersebut, mereka-pun sangat senang dengan hasil peperangan itu karena merasa bahwa dendam kekalahan mereka di perang badar telah terbalaskan.

Palajaran: Perlunya klarifikasi khabar yang datang, dan apalagi jika berita-berita itu berasal dari musuh-musuh Allah, maka harus lebih teliti dalam menerima berita tersebut. Sebagaimana Firman Allah:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا...

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti....( Q.S. Al Hujurat: 6).

Hilangnya atau wafatnya orang yang berpengaruh bisa saja melemahkan semangat da’wah yang sebelumnya telah memuncak tinggi, maka dari itu kita harus menata niat lagi bahwa perjuangan da’wah ini ikhlas hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.


N. Paska Perang

Setelah perang selesai, Rasul dan para shahabatnya mengumpulkan jasad para Syuhada’ yang telah syahid dan menguburkannya. Di tengah pengumpulan jasad tersebut Rasul merasa sangat sedih ketika melihat keadaan jasad Hamzah, paman dan saudara sesusuan beliau. Setelah itu Rasul memerintahkan untuk menguburkan jasad Hamzah satu liang dengan Abdullah bin Jahsy, keponakan dan saudaranya sesusuan.

Selain itu, pemandangan para syuhada’ sangat mengenaskan dan membuat hati terisak tangis, karena jenazah-jenazahnya hanya ditutup dengan mantel karena tidak ada kain kafan. Jika mantel itu ditarik kebagian kepala maka kakinya kelihatan, dan jika ditarik kebagian kaki maka kepalanya kelihatan. Akhirnya Rasul memerintahkan mantel itu ditarik menutupi kepala dan bagian kaki ditutupi dengan daun.[13]

Pelajaran: Perlu adanya penyelesaian dalam berda’wah walau apapun yang terjadi, dan cobaan itu banyak bentuknya, Seperti: Kehilangan Anggota keluarga, orang yang disayang dan pengorbanan harta, jiwa dan raga.


O. Rasulullah Memanjatkan Pujian dan Do’a Kepada Allah

Setelah proses pengurusan jenazah selesai dan orang-orang musyrik telah kembali, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “berbarislah yang lurus. Aku akan memuji Allah dan berdo’a kepada-Nya.” Maka mereka berjajar dalam beberapa shaf dibelakang beliau. Kemudian beliau membaca do’a:

روي الإمام أحمد : لما كان يوم أحد وانكفأ المشركون، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( استووا حتى أثني على ربي عز وجل ) ، فصاروا خلفه صفوفاً، فقال :

( اللهم لك الحمد كله، اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لمن أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت، ولا مقرب لما باعدت، ولا مبعد لما قربت . اللهم ابسط علينا من بركاتك ورحمتك وفضلك ورزقك ) .

( اللهم إني أسألك النعيم المقيم، الذي لا يحُول ولا يزول . اللهم إني أسألك العون يوم العيلة، والأمن يوم الخوف . اللهم إني عائذ بك من شر ما أعطيتنا وشر ما منعتنا . اللهم حبب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا، وكره إلينا الكفر والفسوق والعصيان، واجعلنا من الراشدين . اللهم توفنا مسلمين، وأحينا مسلمين، وألحقنا بالصالحين، غير خزايا ولا مفتونين . اللّهم قاتل الكفرة الذين يكذبون رسلك، ويصدون عن سبيلك، واجعل عليهم رجزك وعذابك . اللهم قاتل الكفرة الذين أوتوا الكتاب، إله الحق )[14] .

“Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau lepaskan, tidak ada yang bisa melepas apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada orang yang Engkau sesatkan  dan tidak ada yang bisa menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau tahan dan tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang Engkau jauhkan dan tidak ada yang bisa menjauhkan apa yang Engkau Dekatkan. Ya Allah, karuniakan kepada kami sebagian dari berkah, rahmat, karunia, dan rezeki-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kenikmatan yang kekal kepada-Mu, yang tidak berubah dan habis. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pertolongan kepada-Mu saat lemah dan keamanan pada saat ketakutan. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlimdung kepada-Mu dari kejahatan yang Engkau berikan kepada kami dan kejahatan yang Engkau tahan dari kami. Ya Allah, Jadikanlah kami mencintai iman dan buatlah iman itu bagus didalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan berserah diri dan hidupkanlah kami dalam keadaan berserah diri. Kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang shalih tanpa ada kehinaan dan bukan dalam keadaan mendapat cobaan. Ya Allah, Perangilahlah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menghalangi manusia dari jalan-Mu. Berikanlah siksa dan adzab-Mu kepada mereka. Ya Allah Perangilah orang-orang kafir yang telah diberi Al-Kitab, wahai Ilah yang haq. Amiin

Wallahu A’lam Bish-Shawab Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.


Daftar Pustaka

Al Quran Al karim                  

Abdullah bin, Muhammad Al khatib At Tibrizi, Misykatul Mashabih, Bairut: Maktabah Islami, 1985

Abdullah bin, Sami al Maghlouth, ATLAS Perjalanan Hidup Nabi Muhammad, Jakarta: Al Mahira, 2008

Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman, Ar Rahiq al Makhtum, Maktabah Syamilah, Multaqa Ahlul Hadits, tt

Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah. Jakarta: Ummul Qura, 2011

Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009

Imran (Imam wa Khatib Masjid al Yaman), Durus wa Ibrah min Ghazwati Uhud, Maktabah Syamilah, tt

Lajnah Ilmiyah bi Ma’had al-Aimmah wa al-Khuthaba, Al Sirah al Nabawiyah al Da’wah, Terjamah, Jakarta: WAMY Jakarta, 2004

Roham, Abu Jamin, Kronologi Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Emral, 2005

Umar bin, Ismail bin Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2010


[1] Ibn Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2010, hal.127

[2] Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009, hal. 194

[3] Sami bin Abdullah al Maghlouth, ATLAS Perjalanan Hidup Nabi Muhammad, Jakarta: Al Mahira, 2008, hal. 238

[4] Lajnah Ilmiyah bi Ma’had al-Aimmah wa al-Khuthaba, Al Sirah al Nabawiyah al Da’wah, Terjamah, Jakarta: WAMY Jakarta, 2004, hal. 35

[5] Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009, hal. 194

[6] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah. Jakarta: Ummul Qura, 2011, hal. 469

[7] Ibn Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. hal.127  “dalam kitab ibnu katsir ini hanya disebutkan bulan dan tahunnya saja tanpa menyebutkan tanggal”

[8] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah., hal. 468-469

[9] Imran (Imam wa Khatib Masjid al Yaman), Durus wa Ibrah min Ghazwati Uhud, Maktabah Syamilah, Hal. 2

[10] Abu Jamin Roham, Kronologi Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Emral, 2005, hal.151

[11] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, terjemah, hal. 459

[12] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Maktabah Syamilah, Multaqa Ahlul Hadits, hal. 221

[13] Muhammad bin Abdullah Al khatib At Tibrizi, Misykatul Mashabih, Bairut: Maktabah Islami, 1985,  juz. 2, hal. 353

[14] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, hal. 255

(Tugas, makalah kuliah)

BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI

 

IMAM AL GHAZALI AT-THUSI

BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI

“Siapa yang tak kenal dengan nama Imam Al Ghazali, yang namanya sudah mengudara dan terang benderang meng-udara dilangit bagai bintang gejora yang menerangi malam gelap gulita, jasanya kepada agama islam tak akan padam karena sinaran karyanya yang sudah menyebar menerangi seluruh alam”

a. Kelahiran Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al Ghazali At-Thusi, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam), beliau sangat di hormati dan di segani oleh para ulama’ dan umat islam pada zamannya hingga sekarang, hal ini dikarenakan jasa beliau yang sangat besar terhadap islam, melalui dengan dakwah dan karyanya yang menyebar keseluruh penjuru dunia termasuk di indonesia. Beliau lahir pada tahun 450 H, di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan didunia islam.[1]

Keluarga Imam Al Ghazali sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada ketertarikannya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (Imam Al Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.[2] Meskipun dilahirkan dikalangan keluarga yang sederhana, hal ini tidak menjadikan beliau malas namun justru menjadi penyemangat beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan, sehingga kita dapat mempelajari karya-karyanya yang sangat banyak dalam hal keislaman dan ilmu lainnya.


b. Pendidikan dan Perjalanan Mencari Ilmu

Perjalanan Imam Al Ghazali dalam memulai pendidikannya di daerah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan yang lain, di lanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf), ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok islam (Al-Qur’an dan Sunnah nabi). Diantara kitab-kitab hadits yang beliau pelajari, antara lain:

  Shahih Bukhori, beliau belajar dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi.

  Sunan Abi Daud, beliau belajar dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi.

  Maulid An Nabi, beliau belajar pada dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani.

  Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim, beliau belajar dari Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asai.

Begitu pula diantarnya bidang-bidang ilmu yang di kuasai Imam Al Ghazli (ushul al din) ushul fiqh, mantiq, filsafat, dan tasawuf. Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada imam Kharamain, beliau dalam belajar bersungguh-sungguh sampai mahir dalam madzhab, khilaf (perbedaan pendapat), perdebatan, mantik, membaca hikmah, dan falsafah, imam Kharamain menyikapinya sebagai lautan yang luas.[3]

Setelah imam kharamain wafat kemudian beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang tentang madzhab kitab al-basith, al-wasith, al-wajiz, dan al-khulashoh. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasyfa, kitab al-mankhul, bidayatul hidayah, al-ma’lud filkhilafiyah, syifaal alil fi bayani masa ilit dan kitab-kitab lain dalam berbagai bidang.[4] Imam Al Ghazali juga belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Syaikh Ahmad Al-Radzaski di Thus, dan dari Abu Nasral Ismailli di Jurjan. Setelah imam Al Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kepada Yusuf Al Nassaj (w-487 H). pada tahun itu imam Al Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abdul Ghofur Ismail Al-Farisi, Imam Al-Ghozali menjadi pembahas paling pintar di zamanya. Imam Haramain merasa bangga dengan prestasi muridnya. Walaupun kemashuran telah diraih imam Al Ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H.

Pada tahun 488 H (kala itu beliau menjabat sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah), Imam Al Ghazali dilanda keraguan (skeptis) terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaannya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga beliau menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, Imam Al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus, selama kira-kira dua tahun imam Al Ghazali di kota Damaskus beliau melakukan uzlah, riyadah, dan mujahadah. Kemudian beliau pihdah ke Bait al Maqdis Palestina untuk melakukan ibadah serupa. Setelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah maqbarah Rasulullah Saw. Sepulang dari tanah suci, Imam Al Ghazali mengunjungi kota kelahirannya di Thus, disinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis sampai berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal dan fenomenal ”Ihya’ ’Ulum al-Din”(menghidupkan kembali ilmu agama).[5] Kemudian dikota inilah (Thus) beliau wafat pada tahun 505 H. Abul Fajar Al-Jauzi dalam kitabnya al asabat ‘inda amanat mengatakan; Ahmad saudaranya imam al Ghazali berkata pada waktu shubuh, “Abu Hamid berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata: Ambillah kain kafan untukku kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan diatas kedua matanya, beliau berkata ”Aku mendengar dan taat untuk menemui Al Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat”. Imam Al Ghazali yang bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya (Thus) pada hari senin 14 Jumadil Akir 505 H. Imam Al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibukota Thus.[6]


c. Pujian dan kritikan ulama’ kepada Imam Al Ghazali.

Imam Al Ghazali adalah sosok yang sangat spesial dan terkenal dengan kecerdasannya dalam menguasai berbagai ilmu, sehingga banyak kalangan ulama’ yang memuji kacemerlangan beliau dalam berfikir dan memahami ilmu-ilmu yang sangat luas. Diantaranya pujian itu berasal dari para pengagumnya dari kalangan ulama terdahulu seperti Ibn Hajar, Ibn Katsir, Imam Muhammad ibn Yahya dan lain-lain. Dari kalangan ulama kontemporer, Abul Hasan Ali Al-Nadawi, seorang ulama besar asal India mengatakan, "Al Ghazali adalah seorang pemikir yang cemerlang, cendekiawan yang agung serta tokoh reformasi yang telah berusaha membangun kembali konstruksi baru bidang pemikiran dalam dunia Islam". Dan juga ulama dan intelektual kontemporer sebagai pengagum Al Ghazali, antara lain adalah Mushtafa Al-Maraghi (mantan Syaikh Al-Azhar), Abul A'la Al-Maududi dan Ahmad Fuad Ahwani.

Namun dari sekian banyak pengagum dan pembela Imam Al Ghazali, tidak sedikit pula pengkritik dan pengecamnya dari dulu hingga sekarang. Yang sangat keras mengecam Al Ghazali dari kalangan ulama dahulu antara lain Abu Bakar Al-Maliki, Ibn Shalah, dan Ibnul Jauzi. Adapun dari kalangan intelektual kontemporer yang sangat keras mengecam beliau adalah dari kelompok rasionalis Islam, kaum Mu'tazilah dan terutama dari para ahli filsafat Islam. Dalam pandangan mereka, Al Ghazali telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah Islam karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan menghambat kemajuan masyarakat karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis. Lebih dari itu, ahli filsafat Islam berpendapat bahwa pemikiran Al Ghazali menjadi starting point dari pada kemunduran peradaban Islam. Yaitu berawal dari diluncurkannya suatu karyanya yang spektakuler pada abad XIV Masehi yang berjudul Tahafut al-Falasifah. Karya ini dianggap tidak hanya menghancurkan filsafat metafisika, akan tetapi juga turut andil melemahkan umat Islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang natural science atau ilmu pengetahuan alam. Sehingga umat islam kurang berpengaruh dalam rangka perkembangan baik riset, teknologi, natural science dan ilmu pengetahuan alam.

d. Karya-karya Imam Al Ghazali

Imam Al Ghozali termasuk penulis yang sangat produktif dan menghasilkan banyak karya, karya-karya beliau diperkirakan mencapai 300-an kitab, diantara beberapa karyanya adalah :

1. Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah.

2. Tahaful al falasifah (kekacauan pikiran para filusifi) buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras.

3. Miyar al ‘ilmi/miyar almi (kriteria ilmu-ilmu).

4. Ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat.

5. Al munqiz min al dhalal (penyelamat dari kesesatan) kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan.

6. Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)

7. Miskyat al anwar (lampu yang bersinar), kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.

8. Minhaj al abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan).

9. Al iqtishad fi al i’tiqod (moderisasi dalam aqidah).

10. Ayyuha al walad.

11. Al musytasyfa

12. Ilham al –awwam an ‘ilmal kalam.

13. Mizan al amal.

14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).

15. Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).

16. Al washit (yang pertengahan) .

17. Al wajiz (yang ringkas).

18. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)

19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja).

20. Al mankhul minta’liqoh al ushul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).

21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).

22. Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)

23. Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).

24. Al ikhtishos fi al ‘itishod (kesederhanaan dalam beri’tiqod).

25. Yaaqut at ta’wil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an), dan lain-lain.


Demikianlah sekilas pembahasan tentang biografi Imam Al Ghazali, walaupun beliau memiliki beberapa kekurangan dan juga mendapatkan beberapa kritikan dari para ulama’ salaf dan khalaf, tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa beliau juga mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan dakwah islam, dan juga karya beliau yang telah tersebar di seluruh penjuru dunia telah banyak meng-inspirasi umat dalam membangun peradaban khususnya peradaban dunia islam. Wallahhu A’lam Bishshawab.



[1] Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam,  Jakarta : Van Hoeve Letiar Baru, 1997 , Hal:25

[2] Imam Al Ghazali, Pembuka Pintu Hati,  Bandung : MQ Publishing, 2004, Hal. 4

[3] Hima wijaya, Mengenal Al Ghazali Keraguan Adalah Awal Keyakinan, Bandung: Mizan Media Utama MMU, 2004 ,Hal: 15

[4] Hudari Bik, Tarikh Al Tasri Al Islam, Semarang : Darul Ihya, 1980 , terj. Zuhri, Hal: 570

[5] Ibid, Hal: 19

[6] Imam Al Ghazali, Pembuka Pintu Hati, Semarang : Darul Ihya, 1980, Hal. 266


Semoga bermanfaat Barokallahu fiikum. 🤲🏻Bersumber dari blog tetangga.... ^_^'


Kamis, 27 Oktober 2022

KISAH AR-RAJJAL BIN UNFUWAH

 


*KISAH YANG SANGAT MENAKUTKAN*

(Mengambil pelajaran dari kisah penuh hikmah, salah seorang tokoh munafik yang pernah hidup bersama Rasulullah ﷺ)

Diriwayatkan Dari Sahabat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam yang mulia, yaitu Abu Hurairah رَضِي اللَّهُ تعالى عَنْهُ, bahwasanya Rasulullah ﷺ pada suatu hari melintas lewat, disamping Abu Hurairah ada beberapa orang shahabat. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata : 


"Sesungguhnya di tengah- tengah kalian ada seorang lelaki giginya didalam neraka lebih besar daripada Gunung Uhud ".


* Ini adalah berita dari Rasul ﷺ bahwa ada salah seorang dari mereka akan menjadi penghuni neraka.


* Setelah berjalannya waktu, satu demi satu para shahabat رَضِي اللَّهُ تعالى عَنْهُم tersebut wafat diatas kebaikan, diatas Islam dan Iman. Dan tidak tersisa kecuali Abu Hurairah dan seorang lelaki dari Bani Hanifah, bernama Ar-Rajjal bin Unfuwah. Dia termasuk orang yg datang bertemu dengan Rasulullah ﷺ bersama rombongan Bani Hanifah. Jumlah mereka 13-an orang, seluruhnya masuk islam.


Kemudin setelah itu Ar-Rajjal bin Unfuwah terus-menerus bersama Nabi ﷺ, dia mengambil ilmu dari beliau, menghafal Al-Qur'an dan Ahkam serta bersungguh- sungguh dalam ibadah.


Berkata Rofi' bin Khadiij : "Terdapat pada Ar-Rajjal bin Unfuwah kekhusyukan, ketekunan dalam membaca Al-Qur'an dan kebaikan yg menakjubkan".


Dan berkata Ibnu Umar رَضِي اللَّهُ عَنْهُ : "Dia termasuk orang yang paling utama yang datang kepada kami".


Masyaa Allah Tabarokallahu Wa Ta'ala ..... !!!

Dia adalah seorang Hafizh Al-Qur'an, rajin shalat malam dan kuat puasa.


Berita dari Nabi ﷺ masih terus terngiang dan melekat diingatan sahabat mulia Abu Hurairah رَضِي اللَّهُ عَنْهُ. Tiap kali dia melihat Ar-Rajjal bin Unfuwah dan ketekunannya dalam ibadah serta kezuhudan-nya. Maka, Abu Hurairah menyangka dirinya yg akan binasa dan dialah yg dimaksudkan hadits Rasulullah ﷺ. Diapun merasa khawatir dan takut.


Namun, ketika muncul Musailamah Al Kadzdzab di negeri Yamamah dan mengaku sebagai seorang Nabi, dan banyak orang mengikutinya.


Oleh sebab itu, Sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiiq رَضِي اللَّهُ عَنْهُ mengutus Ar-Rajjal bin Unfuwah kepada penduduk Yamamah untuk menyeru mereka kepada Allah Ta'ala. Dan mengokohkan mereka di atas Islam. 


Lalu, ketika Ar-Rajjal bin Unfuwah sampai di Negeri Yamamah, Musailamah menemuinya, kemudian memuliakannya dan menawarkan kepadanya harta dan emas. Dan juga menawarkan kepadanya setengah kerajaannya bila dia menjumpai manusia dan mengatakan kepada mereka: bahwasanya dia telah mendengar Nabi Muhammad ﷺ mengatakan: bahwasanya Musailamah adalah serikatnya(kelompok) dalam kenabiaan.


Maka, ketika Ar-Rajjal bin Unfuwah melihat kenikmatan yang ada pada Musailamah sedangkan dia orang miskin, diapun menjadi lemah dan melupakan keimanannya, puasanya dan zuhudnya.


Akhirnya diapun keluar kepada orang orang yang mengenalinya sebagai seorang shahabat Nabi. Dia bersaksi bahwasanya dia telah mendengar Nabi ﷺ mengatakan: Sesungguhnya dia telah menjadikan Musailamah serikatnya dalam kenabian.


Maka dengan itu fitnahnya Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar daripada fitnahnya Musailamah Al Kadzdzab sehingga dengan sebab itu banyak orang yang tersesat dan menjadi pengikut Musailamah hingga pasukannya mencapai lebih dari 40 ribu pasukan.


Kemudian sahabat mulia Abu Bakar Ash-Shiddiiq رَضِي اللَّهُ عَنْهُ menyiapkan pasukan untuk memerangi Musailamah, namun mereka kalah di awal peperangan.

Maka Abu Bakar رَضِي اللَّهُ عَنْهُ mengirim tambahan pasukan dan menunjuk Khalid bin Walid (pedang Allah) sebagai panglimanya.


Kemudian terjadilah perang yang sangat sengit dan dahsyat hingga pasukan Musailamah terkalahkan dan Musailamah terbunuh di tangan Wahsyi (pembunuh Hamzah paman Rasul) dan terbunuh pula Ar-Rajjal bin Unfuwah bersama pengikut Musailamah yg lainnya, diapun mati dalam keadaan tercela dan hina di atas kekufuran.


Ketika Abu Hurairah رَضِي اللَّهُ عَنْهُ mengetahui kabar terbunuhnya Ar-Rajjal bin Unfuwah dia tersungkur sujud besyukur kepada Allah Ta'ala setelah dia mengetahui dirinya selamat.


Sahabat sekalian mari cermati dan renungkanlah :

Ar-Rajjal bin Unfuwah hidup bersama Nabi tekun beribadah dan membaca Al-Qur'an lagi zuhud. Akan tetapi hidupnya berakhir dengan keburukan. Dia tersesat dan menyesatkan dan mati di atas kekufuran.


Sedangkan Wahsyi bin Harb yang telah membunuh Hamzah (singa Allah) mendapatkan hidayah Allah Ta'ala, hidupnya berakhir dengan kebaikan dan menjadi salah seorang mujahidin terbaik.


Sahabat pecinta nasehat: 

-Janganlah engkau tertipu dengan ibadahmu, dengan shalatmu, dengan puasamu, dengan zakatmu, dengan shadaqahmu. 


-Berdo'alah kepada Allah agar Dia memberikan ke-Istiqomahan kepadamu dan mengakhiri kehidupanmu dengan kebaikan.


-Dan janganlah engkau mencemo'oh seorangpun dengan dosanya. Berdoalah agar Allah menjadikannya bertobat. Janganlah engkau mencibir saudara muslimmu karena dosanya sehingga Allah menyadarkannya sedangkan dosa itu menimpamu. Dan engkau tidak tau apa yg tercatat di Lauhul Mahfudz tentang nasibmu.


-Yang menjadi barometer adalah akhir kehidupan seseorang.


-Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati kokohkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-MU, dan palingkanlah hati kami dari kemaksiatan kepad-Mu. 🤲


Al Bidayah Wa An-nihayah. 

Karya : Ibnu Katsir : 6/323.

Copas dengan beberapa editan yang diperlukan dan disesuaikan.

Semoga bermanfaat Barokallahu fiikum 🤲🏻.

Jumat, 21 Oktober 2022

KHUTBAH IEDUL ADHA 1443 H

 

Khutbah Idul Adha 1433 H – 2022 H

Tiga Dimensi Ibadah Haji*)

(H. Didin Muhidin, M.Kom.I)



Khutbah I

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

 اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. 

 الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ 

Hadirin jama’ah shalat Idul Adha as‘ada kumullâh,

Alhamdulillah, puji syukur sembah sujud patuh setia ikhlas dan cinta marilah kita arahkan dan kita tujukan ke hadirat ilahi robbi dzat yang pagi ini telah memancarkan sang mentari dari ufuk timur dan sore nanti akan ditenggelamkan di sebelah barat sana, penguasa tunggal penyemai kedamaian yang menegakkan langit tanpa tiang yang menghamparkan bumi bagaikan permadani yang menurunkan hujan untuk kehidupan manusia, semua itu sengaja Allah paparkan paparan alam raya ini di hadapan kita agar kita pandai bersyukur kepadaNya, namun anehnya Allah langsung menyindir dengan tajam di dalam Al-Quran Qoliilan Maa Tasykuruun, sedikit sekali manusia yang bersyukur kepada-Nya, semoga kita yang hadir pada kesempatan ini termasuk kelompok yang sedikit atau minoritas yakni kelompok yang senantiasa bersykur kepadaNya. Amiin ya mujiibassaailiin…

Sholawat dan Salam semoga tercurah kepada Rasulullah kekasih Allah nabiyyil mustofa, nabi pilihan Allah, nabi yang paling manis mulutnya, paling benar kata-katanya, paling bijaksana keputusannya, paling tawadhu’ kepribadiannya, paling ikhlas hatinya, paling khusu’ sholatnya, paling tekun dzikirnya, paling kuat tahajudnya, paling benar hajinya, paling rukun rumah tangganya, paling gigih membanguan bangsa dan masyarakatnya tetapi beliau paling tegas terhadap musuh-musuhnya ‘Asysyiddaaul ‘alal kuffar’, itulah nabiyullah yang terakhir nabi kita semua nabi Muhammad SAW.

Jama’ah shalat Idul Adha rahiimani warahimakumullah, 

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram (dimuliakan) di dalam Islam. Tiga bulan lainnya adalah Muharram, Rajab, dan Dzulqa’dah. Keistimewaan Dzulhijjah ditandai antara lain dengan adanya ibadah-ibadah tertentu yang tidak mungkin dikerjakan umat Islam di bulan-bulan lainnya, yakni haji dan kurban. Secara bahasa dzulhijjah merupakan frasa yang terdiri dari kata dzû (memiliki) dan al-hijjah (haji). Dinamakan demikian karena hanya di bulan ke-12 dalam kalender hijriah ini, ada pelaksanaan ibadah haji. Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Karena masuk rukun atau pilar, ibadah ini tentu bukan ibadah yang remeh. Ia wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang mampu. Kemampuan ini meliputi kemampuan secara fisik, ekonomi, juga keamanan. Dengan bahasa lain, ketika seseorang sudah memiliki biaya yang mencukupi, kesehatan fisik yang memadai, dan kondisi aman yang memungkinkan ia sampai ke Tanah Suci, maka ia wajib melaksanakan ibadah tersebut. 

Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 97 menyatakan:

 وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” 

Namun demikian, ibadah haji juga kadang terkait dengan pengalaman spiritual orang. Karena betapa banyak orang Muslim kaya raya yang tak kunjung menunaikan ibadah haji. Sebaliknya, betapa banyak orang bergaji rendah, justru diberi kemampuan untuk ibadah haji. Semangat dan pengalaman batin seseorang amat berpengaruh terhadap seberapa kuat niat berhaji itu tumbuh. Jamaah shalat Idul Adha hafidhakumullah, Dalam ibadah haji, banyak sekali ritual atau manasik yang tak serta merta bisa ditangkap alasannya secara nalar. Jika kita diperintahkan untuk berpuasa Ramadhan tiap tahun, orang mungkin bisa menjelaskan secara rasional dari sudut pandang medis. Demikian juga dengan perintah zakat, yang bisa ditemukan alasannya secara sosial dan ekonomi, yakni agar harta tidak hanya berputar pada segelintir orang saja. Tidak demikian dengan haji. Rukun kelima dalam Islam ini sarat ritual-ritual yang bisa dipahami dengan memosisikannya sebagai simbol-simbol yang penuh makna. 

Jama’ah shalat Idul Adha hafidhakumullah,

Pertama yang bisa ditangkap adalah dimensi tauhid. Dimensi ini tersirat dalam posisi Ka’bah sebagai sentra kedatangan para jamaah dari berbagai belahan dunia. Jutaan orang dari berbagai penjuru dan bangsa berkumpul dalam satu pusat, tanpa dibedakan bahwa satu daerah lebih utama dibanding daerah lainnya. Ini adalah simbol bahwa tujuan dari keseluruhan hidup ini adalah satu, yakni Allah ﷻ. Penjulukkan Ka’bah sebagai “baitullah” (rumah Allah) harus dipahami dalam makna tersebut, bukan Allah bersemayam di dalam Ka’bah. Begitu pula dengan Hajar Aswad yang terletak di sudut timur laut Ka'bah. Kedudukannya yang mulia hingga orang-orang berebut menyentuh dan menciumnya tidak boleh sampai membuat mereka menyembahnya. Anjuran menyentuh dan mencium Hajar Aswad muncul sekadar karena mengikuti sunnah Nabi. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Umar bin Khattab: 

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ 

Artinya: “Sungguh aku tahu, engkau hanyalah batu. Tidak bisa mendatangkan bahaya atau manfaat apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi  wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu.” (HR: Bukhari)  

Jama’ah shalat Idul Adha hafidhakumullah,

Kedua adalah dimensi kemanusiaan. Pakaian ihram yang dikenakan orang-orang saat memulai haji adalah simbol kesamaan dan kesetaraan semua manusia. Dalam ihram seluruh pakaian dianjurkan berwarna putih. Bagi jamaah haji laki-laki bahkan harus mananggalkan semua pakaian berjahit dan menggantinya dengan hanya dua helai kain. Kaum laki-laki dilarang mengenakan topi atau peci, sedangkan jamaah perempuan dilarang mengenakan cadar. Ritual ini menandai kesatuan identitas manusia sebagai hamba Allah, dan melepaskan identitas-identitas selainnya, seperti suku, ras, nasab, jabatan politik, kelas ekonomi, dan ketokohan. Pemulung, selebritis, ulama, menteri, atau presiden datang ke Tanah Suci sebagai hamba Allah, bukan sebagai orang dengan kedudukan duniawinya. Makna kedua ini sekaligus mempertegas makna pertama, yakni nilai tauhid. Konsekuensi dari menjunjung tinggi tauhid adalah mengakui bahwa tidak ada yang lebih dimuliakan selain Allah ﷻ. Manusia pada hakikatnya berada dalam kesetaraan. Standar kedudukan hanya bisa dinilai dari sudut pandang Allah, melalui tingkat ketakwaannya. Manusia paling mulia adalah mereka yang paling takwa kepada Allah ﷻ. 

Sebagaimana firman-Nya:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha-Mengetahui lagi Maha-Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13) 

Tak hanya pakaian-pakaian “kehormatan” duniawi yang dilepas, jamaah haji dari berbagai bangsa dan negara juga bersama-sama meninggalkan tempat asalnya untuk berkumpul di tempat yang sama. Pemandangan ini lebih tampak ketika mereka sedang bersama-sama wukuf di Arafah. Mereka harus berdiam di lokasi yang sama dan di bawah terik matahari yang sama. Ini menandakan bahwa sesungguhnya manusia—siapa pun itu—pada akhirnya akan kembali pada Dzat yang tunggal. Ibadah haji adalah gambaran bahwa manusia harus kembali ke fitrah aslinya sebagai hamba, baik ketika hidup maupun mati.

Jama’ah shalat Idul Adha hafidhakumullah, 

Ketiga adalah dimensi napak tilas sejarah kenabian. Haji juga menjadi momen mengenang jejak nabi-nabi terdahulu, khususnya Nabi Adam, Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad. Perjalanan mereka bukanlah sejarah hidup yang kosong makna, melainkan mengandung berbagai pelajaran yang penting diingat. Ritual melontar Jumrah, misalnya, adalah jejak permusuhan Nabi Adam kepada setan. Kita diingatkan tentang pentingnya selalu waspada terhadap berbagai tipu daya musuh terlaknat ini. Begitu juga tentang ritual Sa’i. Ia menyimpan sejarah perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail, ketika ditinggal sang suami, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Lari-lari yang berulang sampai tujuh kali merupakan simbol kegigihan ikhtiar yang tak kenal putus asa. Hingga akhirnya pertolongan Allah pun datang dengan memancar air secara tiba-tiba dari bawah kaki Nabi Ismail. Mata air itu kita kenal hingga sekarang sebagai sumur Zamzam. Jamaah shalat Idul Adha hafidhakumullah, Allah tak mewajibkan haji untuk setiap orang sebagaimana shalat. Kewajiban haji hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu. Untuk yang sudah atau sedang berhaji, penting baginya tak menyia-nyiakan kewajiban ini dengan memenuhi segala ketentuan haji, juga makna-makna dalam segenap ritual yang dijalankan. Bagi yang belum mampu ke Tanah Suci, cukup baginya berikhtiar semampunya dan menyerap makna haji untuk kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Haji adalah perjalanan suci, bukan wisata untuk meraih kebanggaan diri. Karena itu, bagi yang belum diberi kemampuan menunaikan haji tak perlu berkecil hati selama kita selalu berusaha menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa: memegang prinsip tauhid, menghargai kemanusiaan, dan menjalankan ketentuan syariat sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Wallahu ta’ala a’lam.

 بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

Khutbah II

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. 

 اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَ


*) Teks Khutbah ini disampaikan di Masjid Kampus Putri STID Mochammad Natsir Jl. Mandor Hasan No.45, RT.7/RW.6, Cipayung, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur.

BIOGRAFI IMAM MUSLIM RAHIMAHULLAH

 

BIOGRAFI IMAM MUSLIM



IMAM MUSLIM

Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.


Kehidupam Dan Perjalanannya Mencari Ilmu

Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.

Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.

Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.



Wafat

Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.


Para Guru Imam Muslim

Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.


Keahlian Dalam Hadits

Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits shahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.

Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya.” Pernyataan ini tidak bererti bahawa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya.

Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahawa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.


Karya-Karya Imam Muslim

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya:

Jami’ as-Shahih (Shahih Muslim).

Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits).

Kitabul-Asma’ wal-Kuna.

Kitab al-’Ilal.

Kitabul-Aqran.

Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.

Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.

Kitabul-Muhadramin.

Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.

Kitab Auladis-Sahabah.

Kitab Awhamil-Muhadditsin.


Kitab Shahih Muslim

Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami’ as-Shahih, terkenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling shahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Shahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Shahihnya.

Bukti konkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahawa ia pernah berkata: “Aku susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.

Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahawa jumlah hadits Shahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahawa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Shahihnya: “Tidak setiap hadits yang shahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Shahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.”

Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”

Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Shahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alas an pula.”

Imam Muslim di dalam penulisan Shahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebahagian naskah Shahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.


Semoga bermanfaat.

Bersumber dari blog tetangga.... ^_^'


BERKUMPUL DENGAN AHLI TAUBAT

 



Duduk dan bermajlislah dengan orang yang ahli taubat.


جَالِسُوا التَّوَّابِينَ، فَإِنَّهُمْ أَرَقُّ شَيْءٍ أَفْئِدَة (صفة الصفوة 2/58)


Duduklah dengan mereka yang bertaubat karena sesungguhnya mereka adalah orang yang paling lembut hatinya.


(Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu)

Semoga bermanfaat Barakallahu fiikum.

https://t.me/NasehatSalafushShalih_554 

Nasehat tentang syukur dan larangan tergesa-gesa.



 

Senin, 17 Oktober 2022

BIOGRAFI IMAM AL BUKHARI

 BIOGRAFI IMAM AL BUKHARI



IMAM AL BUKHARI 

Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”

Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.

Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.

Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:

“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”

Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.


Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya.

Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma kerana tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, kerana merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua kerana Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Pengembaraannya

Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebahagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’as-Shahih dan pendahuluannya.

Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahawa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya.

Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahawa ia pernah berkata: “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya kerana menetap di negeri Khurasan.

Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadits-hadits dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadits dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadits sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.


Kemashuran Imam Bukhari

Kemasyhuran Imam Bukhari segera mencapai bahagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu di alu-alukan. Masyarakat hairan dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya.

Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Shahih Muslim menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebahagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadits secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.”


Imam Bukhari Difitnah

Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahawa “Al-Qur’an adalah makhluk.” Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: “Barang siapa berpendapat lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ahh. Ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafaz-lafaz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Bukhari perbah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.” Demikian juga ia pernah berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahawa lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: “Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini.” Oleh kerana Imam Bukhari berpendapat bahawa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.

Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majlis pengajian dan pengajaran hadits.

Tetapi kemudian badai fitnah datang lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami’ al-Shahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahawa “Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majlis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahawa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.” Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara.

Imam Bukhari, kemudian mendo’akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.

Wafat

Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Shahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum menulis buku itu. Sebahagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah.

Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadits muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya.

Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahawa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.

Para Guru Imam Bukhari

Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahawa dia menyatakan: “Aku menulis hadits yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan berpendirian bahawa iman adalah ucapan dan perbuatan.” Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang haditsnya diriwayatkan dalam kitab Shahih-nya sebanyak 289 orang guru.

Keutamaan Dan Keistimewaan Imam Bukhari

Kerana kemasyhurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung haditsnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahawa kitab Shahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma’qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyhur sebagai perawi kitab Shahih Bukhari.

Dalam bidang kekuatan hafalan, ketazaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadits, juga dalam bidang ilat-ilat hadits, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadits lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahawa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits shahih, dan 200.000 hadits yang tidak shahih.”

Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadits di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadits, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadits ini diberi sanad hadits lain dan sanad hadits lain dinbuat untuk matan hadits yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadits yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadits kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahawa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: “Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.”

Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: “Hadits pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadits kedua isnadnya yang benar adalah beginii…”

Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadits. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadits-hadits yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai “Imam” dalam bidang hadits.

Sebahagian hadirin memberikan komentar terhadap “uji cuba kemampuan” yang menegangkan ini, ia berkata: “Yang mengagumkan, bukanlah kerana Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadits yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali.”Jadi banyak pemirsa yang hairan dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadits secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa.

Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi’in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebahagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadits sahabat dan tabi’in, yakni hadits-hadits mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW.”

Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : “Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadits dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma’il al-Bukhari.”

Imam al-A’immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadits, yang melebihi Muhammad bin Isma’il.” Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma’il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Iraq yang melebihi kealimannya.”

Al-Hakim menceritakan, dengan sanad lengkap. Bahawa Muslim (pengarang kitab Shahih), datang kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: “Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadits dan dokter ahli penyakit (ilat) hadits.” Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.”

Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: “Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: “Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.” Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: “Haditsnya diingkari.”

Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadits yang diriwayatkan seseorang hanya kerana orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahawa ia berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.”

Selain dikenal sebagai ahli hadits, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada darjat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi’i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan ‘Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadits yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadits, bukan sebagai ahli fiqh.

Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahawa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka.

Karya-Karya Imam Bukhari

Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :

Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari).

Al-Adab al-Mufrad.

At-Tarikh as-Sagir.

At-Tarikh al-Awsat.

At-Tarikh al-Kabir.

At-Tafsir al-Kabir.

Al-Musnad al-Kabir.

Kitab al-’Ilal.

Raf’ul-Yadain fis-Salah.

Birril-Walidain.

Kitab al-Asyribah.

Al-Qira’ah Khalf al-Imam.

Kitab ad-Du’afa.

Asami as-Sahabah.

Kitab al-Kuna.

Sekilas Tentang Kitab AL JAMI' AS SHAHIH (Shahih Bukhari)

Diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebahagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahawa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ as-Shahih.”

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti keshahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.” Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahawa ia mendengar Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: “Aku susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadits pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahawa hadits itu benar-benar shahih.”

Maksud pernyataan itu ialah bahawa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadits-hadits dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun.

Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Kerananya tidak menghairankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai “Buku Hadits Nabi yang Paling Shahih.”

Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami’ as-Shahih ini kecuali hadits-hadits yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadits shahih kerana khawatir membosankan.”

Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahawa Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadits mutabi dan hadits syahid, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in.


Jumlah Hadits Kitab AL JAMI' AS SHAHIH (Shahih Bukhari)

Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahawa jumlah hadits Shahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib.

Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari, menyebutkan, bahawa semua hadits shahih mawsil yang termuat dalam Shahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadits shahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Shahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.


Semoga bermanfaat.

Bersumber dari blog tetangga.... ^_^'

CONTOH ORGANISASI

QUDWATUL HASANAH(QUWAH) “TELADAN YANG BAIK” Oleh: Ibnu Abdul Qodir Al Ishlahy A.      Latar Belakang Segala puji bagi Allah Rabb semesta ala...